Mencari Sehat dan Keadilan dalam Makanan untuk PKL dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Amy Lumban Gaol, December 20, 2017

Sehat itu tidak adil. Demikian akhirnya kesimpulan yang diungkapkan secara miris dan bercanda oleh Seterhen “Saska” akbar, Koordinator Riset Indie, saat mengakhiri diskusi   Knowledge Café, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bandung Food Change Lab Talkshow and Exhibition, 23-24 November 2017, di Bandung.

Kegiatan ini digelar guna mengkampanyekan Sustainable Diets for Al (SD4All) – sebuah program Hivos yang mengedepankan makanan sehat, beragam, dan terjangkau yang bisa dikonsumsi oleh semua kalangan terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), termasuk yang disediakan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam konteks kegiatan di Bandung ini. Program Food Change Lab Bandung juga didukung penuh oleh Hivos, sebuah organisasi pembangunan nirlaba non-pemerintah yang terinspirasi oleh nilai-nilai humanis asal Belanda, dan IIED (International Institute for Environment and Development), lembaga riset pembangunan nirlaba asal Inggris.

Dalam diskusi, Kamis (23/11) yang menyoroti  advokasi makanan sehat bagi PKL (Pedagang Kaki Lima) dan konsumennya yang berpenghasilan rendah, peserta menilai definisi makanan sehat itu jadi tergantung dengan persepsi masing-masing. Persepsi yang berbeda ini dikarenakan pengalaman dan pengetahuan terkait dengan sehat itu sendiri.

“Menarik banget isu ini digulirkan ke peserta yang berbeda profesi dan pendidikannya. Bagaimana mereka melihat satu makanan yang sama, tapi belum tentu persepsinya sama dalam hal menilai sehat atau tidaknya. Tapi ini menjadi diskusi yang baik, karena dari semua persepsi menjadi pengetahuan, sehingga orang bisa melihat arti sehat pada makanan seperti apa, lalu meningkatkan kepedulian, baru nanti kalu sudah peduli akan merasa butuh tentang sehat. Tapi kalau menyangkut PKL dan konsumen untuk sementara ini masih jauh,” jelas  Saska.

Mujahidin salah satu PKL yang diundang dalam diskusi menjelaskan, proses diskusi tersebut memang membuatnya terhantar pada pengetahuan dan pemahaman tentang arti sehat. Serta melihat bahwa perannya juga sangat penting dalam sistem jaringan makanan. Namun persoalan yang kini dihadapi PKL di Bandung adalah soal legalitas dan bagaimana dia dan rekan-rekan satu profesi dengannya bisa berjualan dengan nyaman dan aman.

Knowledge café adalah bagian panjang dari proses “lab” atau laboratorium yang terus dieksplorasi oleh Riset Indie untuk bisa mendengungkan kampanye SD4All. Menurut Manajer Program Riset Indie, Amanda Mita, dalam setahunan terakhir mereka juga bekerja sama dengan Sekolah Bisnis dan Manajemen, ITB (Institut Teknologi Bandung). Beberapa kelompok mahasiswa kemudian diajak melakukan eksplorasi terkait dengan cara-cara PKL bekerja, serta interaksinya dengan konsumen – masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam delapan minggu terakhir akhirnya para mahasiswa ini bisa menghasilkan lima prototype inovasi yang sedikitnya bisa menjawab persoalan-persoalan yang tampaknya sederhana namun sering dialami masyarakat berpenghasilan rendah dalam mengakses makanan yang murah dari PKL. Proses menghasilkan prototype juga dijadikan sebagai bahan pemicu dan kampanye SD4All di kalangan anak muda Bandung.

“Kami libatkan mahasiswa langsung kepada isunya dalam proyek yang kita berinama Food Lab. Mereka turun ke lapangan, melihat persoalannya kemudian mencari solusinya melalui prototype yang mereka buat. Tidak perlu yang sulit, hal-hal sederhana saja. Lalu hasil ini kami diskusikan  bersama berbagai kalangan, dari pengambil kebijakan, bahkan hingga PKL-nya. Sehingga ada dialog dan  pemahaman. Mungkin juga memicu kesadaran satu dengan lainnya,” jelas Amanda Mita.

Prototype yang dimaksud adalah Meli (Meja Lipat), Kumbah (alat menyuci sederhana), Gerakan PKL Sehat, wa.suh, dan Dadang Ramzi. Contoh Meja Lipat yang diciptakan Kelompok Meli. Ide ini muncul sebagai jawaban keprihatinan mereka terhadap seorang penjual es kelapa muda yang tidak bisa menyediakan bangku dan meja bagi banyak pembelinya yang antri dan menunggu lama. Disebabkan keterbatasan lahan dan sulit membawa bangku kursi untuk berjualan dengan gerobak.

Kumbah sebutan bahasa Sunda untuk aktivitas menyuci alat-alat makan. Diciptakan salah satu kelompok peserta food lab untuk menjawab soal kebiasaan kebanyakan PKL yang menyuci alat-alat makan usai di pakai konsumennya dengan menggunakan air dalam tiga ember kecil saja, dan dipakai berulang-ulang.

Dadang Ramzi juga muncul sebagai ide kampanye peserta untuk menciptakan seorang “chef rumahan” ala Gordon Ramzy, yang bisa mengolah makanan yang sederhana namun sehat. Dadang Ramzypun memberikan moto kampanyenya, “Yuk kita masak yang murah, enak, sehat!” Diinspirasi oleh satu soal yang mengganggu mereka ketika mengikuti salah seorang tukang ojek online, yang begitu tiba di rumah makannya hanya tempe, tahu, nasi, sambal dan ikan asin.

“Isu PKL diangkat sebagai permasalahan yang kompleks, lintas dimensi, dan telah berlangsung lama. Sebagai salah satu pemain utama di sistem pangan kota Bandung, PKL menduduki posisi yang dilematis. Di satu sisi, PKL yang mampu memberikan akses terhadap makanan dan lapangan pekerjaan, terutama bagi warga kelas menengah dan bawah. Di sisi lain, keberadaannya seringkali dianggap mengganggu ketertiban, keindahan, dan mempersempit lahan terbuka hijau daerah urban Bandung. Sehingga, hubungan benci-cinta antara PKL dan masyarakat ini menegaskan bahwa isu ini bukan semata masalah urbanisasi dan estetika kota, melainkan isu kebutuhan riil dari konsumen terhadap keterjangkauan makanan,” jelas Mita.

Ditambahkan juga oleh Seterhen ‘Saska’ Akbar, cara-cara alternatif ini penting untuk dilakukan, terutama yang melibatkan berbagai aktor di sistem pangan demi mendapatkan masukan dari berbagai sudut pandang.

“Aksi komunal ini menyediakan perubahan positif, terutama pada masa kini di mana beraksi sendirian tanpa mempertimbangkan perspektif orang lain dan berkolaborasi sulit menghasilkan apa pun,” jelasnya. “Melalui pameran ini, kami ingin menampilkan ide dan alternatif solusi yang telah terhimpun sejauh ini sambil mendapatkan kembali informasi mengenai sejauh mana pendekatan desain,” tambahnya lagi.