Hivos Southeast Asia

Southeast Asia

Pesan penting dari Sumba untuk Dunia di COP 22

Umbu Janji

“Kalau ingin melihat bagaimana praktek 100% energi terbarukan dilaksanakan di lapangan, silahkan tengok sendiri di desa saya di Sumba. Semua yang di hadir sini hari ini boleh datang.”, ujar Umbu Janji. Tawaran ini disambut dengan tawa dan tepuk tangan oleh para peserta konferensi tingkat tinggi internasional 100% Renewable Energy for 1.5 Degree, di COP 22 di Maroko, minggu lalu.

Pada konferensi tingkat tinggi tersebut Umbu Janji yang sehari-harinya menjabat sebagai anggota DPRD ini hadir sebagai pembicara mewakili komunitasnya di desa Kamanggih, Sumba Timur.

Konferensi 100% Renewable Energy for 1,5°C ini diselengarakan oleh panitia COP 22 bekerjasama dengan Climate Vulnerable Forum (CVF), yakni kumpulan 48 negara rawan perubahan iklim yang beranggotakan antara lain Filipina, Guatemala, Maroko, Papua Nugini. Acara ini merupakan wadah dimana para pembicara dari berbagai latar belakang seperti organisasi masyarakat, pemerintah dan kalangan bisnis hadir untuk membahas transisi menuju 100% energi terbarukan sebagai langkah paling etis, feasible, dan murah untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan menjaga suhu bumi agar tetap berada di bawah 1.5 derajat celcius. CVF sendiri membuat komitmen bersama terkait energi terbarukan dan juga untuk menyerukan agar pendanaan perubahan iklim diberikan kepada negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim (CVF Marakesh Vision).

Duduk sejajar dengan Umbu Janji sebagai pembicara hari itu diantaranya adalah Presiden Negara Kepulauan Marshall, Menteri Lingkungan Hidup Ethiopia, Wakil Walikota Oslo, CEO IKEA, CEO Mars, CEO Se4ALL dan juga Helen Clark, administrator UNDP.

Meski tidak bisa berbahasa Inggris dan menjadi satu-satunya pembicara yang harus didampingi penerjemah, Umbu Janji tetap antusias menceritakan pengalamannya dalam menerapkan energi terbarukan untuk Sumba dibawah proyek Sumba Iconic Island (SII) yang digawangi Kementrian ESDM bekerja sama dengan Lembaga Hivos.

Proyek SII yang dibicarakan oleh Umbu Janji dalam konferensi ini merupakan ambisi pemerintah daerah dan nasional, komunitas masyarakat sipil, pihak swasta dan para pemangku kepentingan lainnya di Indonesia untuk mencapai target 100% energi terbarukan di Sumba pada tahun 2025. Proyek ini dinilai bisa menjadi contoh yang dapat ditiru oleh negara-negara lain dalam menerapkan 100% energi terbarukan.

Menurut Umbu Janji, dipilihnya Sumba sebagai lokasi proyek percontohan ini pertama dikarenakan rasio elektrifikasinya yang sangat rendah (hanya 24% saat proyek SII belum dijalankan). Kedua, kondisi geografis yang tandus dan berbukit-bukit sehingga membuat Sumba sulit dialiri listrik dengan cara tradisional menggunakan grid PLN. Sementara sumber-sumber energi terbarukan seperti potensi matahari, air dan angin berlimpah di pulau kecil ini. Proyek ini dimulai pada tahun 2010, hingga sekarang SII sudah berhasil menggandakan rasio elektrifikasi pulau Sumba menjadi sekitar 42%.

Kehadiran Umbu Janji sebagai pembicara di forum ini setidaknya memberi gambaran yang lebih baik tentang usaha Indonesia membangun energi terbarukan, di tengah kritik pedas yang diterima Indonesia di ajang COP 22 lantaran pembangunan dua pembangkit listrik batubara  yang dinilai bertentangan dengan komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi dan menghambat ambisi global untuk mempertahankan suhu bumi agar berada di bawah 1.5 derajat celcius.

Off-grid: Solusi untuk Indonesia

Saat ini masih ada sekitar tiga puluh juta rakyat Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik. Umumnya orang-orang ini tinggal di daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau oleh PLN, seperti Sumba.

Dalam konteks perubahan iklim, menyediakan akses listrik kepada orang-orang berekonomi lemah dan tinggal di daerah terpencil adalah langkah utama yang harus dilakukan pemerintah. Akses listrik merupakan pintu utama untuk meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim karena akan membuka peluang-peluang ekonomi yang pada akhirnya juga meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Rendahnya kemampuan ekonomi membuat kemampuan adaptasi masyarakat di daerah terpencil terhadap dampak perubahan iklim akan rendah. Hal ini disebabkan oleh, pertama, selain rentan terhadap meningkatnya permukaan air laut, pulau-pulau kecil (dan daerah terisolasi) umumnya memiliki kualitas tanah yang kurang baik, sementara para petani sangat bergantung pada dinamika musim. Dampak perubahan iklim seperti berkurang atau bertambahnya curah hujan, atau berubahnya keteraturan musim akan sangat menggangu ketahanan pangan masyarakat. Kedua, di pulau-pulau kecil dan daerah-daerah terisolasi biasanya masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang rendah, kurang mendapat perhatian dari pemerintah, serta memiliki kapasitas logistik yang terbatas. Hal ini membuat sulit bagi mereka untuk bertahan menghadapi dampak-dampak perubahan iklim.

Belajar dari pengalaman negara-negara yang sudah berhasil menyediakan akses listrik universal antara lain misalnya China, Meksiko dan Thailand, negara-negara tersebut menyatakan penyediaan akses listrik bagi 10-15% terakhir dari total populasi biasanya memang yang paling mahal dan paling sulit dilakukan. Negara-negara tersebut membutuhkan waktu dua puluh tahun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dari 30%-40% menjadi 85% - 90%. Namun, untuk melistriki 10%-15% yang tertinggal, negara-negara ini membutuhkan waktudua puluh tahun lagi.

Namun menurut studi kasus proyek pencontohan Sumba Iconic Island misalnya, dapat disimpulkan bahwa pembangunan off-grid melalui pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan yang tersedia secara lokal di daerah-daerah yang tidak terjangkau grid PLN adalah jauh lebih murah daripada harus membangun grid atau mendatangkan energi fossil dari kota/pulau terdekat (e.g. Hivos, 2010; ADB, 2015).

Untuk itu, alangkah baiknya apabila pemerintah dapat memperbanyak pembangunan akses listrik melalui pemanfaatan energi terbarukan menggunakan sistem distribusi off-grid. Selain biayanya lebih murah, sistem off grid dapat menjangkau daerah-daerah terpencil.

Proyek off-grid seperti SII bisa berjalan dengan baik karena ada pelibatan semua pihak yang berkepentingan . “Proyek ini bisa sukses jika semua pihak, baik dari masyarakat, pemerintah, LSM dan swasta ikut berperan. Jika masyarakat dilibatkan dan dilatih untuk mengelola, mereka akan memiliki rasa memiliki yang tinggi, dengan demikian mereka bisa mengelola dan menjaganya dengan baik”, ungkap Umbu Janji.

“100% energi terbarukan bukanlah sekedar mimpi, tapi akan menjadi kenyataan. Saya sudah menyaksikan dan melaksanakannya sendiri di pulau saya”,  ujar Umbu Janji dengan penuh semangat.

Baca ringkasan berita ini dalam bahasa Inggris