Ada Gulo Asem di Usaha Katering Devi

Dengarkan audionya:

 

Lima tahun sudah Deviana Rizqi Widyawati (30 tahun) menggeluti usaha katering. Ia pernah menjajal beberapa pekerjaan sebelum akhirnya memutuskan fokus membangun usahanya sendiri. Ia, misalnya, pernah bekerja mulai dari bagian pemasaran produk teh hingga bekerja di perusahaan suku cadang kendaraan.

Usaha katering ini pun awalnya hanya coba-coba. Bidang ini ia masuki tanpa rencana. Devi yang memang punya hobi memasak sering membagikan hasil masakannya ke tetangga sekitar. Gayung pun bersambut. Kawan dan koleganya menyukai cita rasa kreasinya. Pesanan katering pun mulai berdatangan.

“Tetanggaku kan ada yang guru dan ada juga yang kerja di instansi pemerintah. Jadi mereka biasa pesan katering kalau di tempat kerja mereka ada acara,” ujarnya.

Melihat peluang ini, Devi kian serius membangun bisnisnya. Dapur rumahnya ia sulap jadi pusat produksi. Ia juga aktif mengikuti beberapa pelatihan-pelatihan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang digelar oleh pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan, sampai akhirnya Devi menjadi salah satu UKM binaan Pattiro Semarang.

Semenjak itu usaha kateringnya kian berkembang. Kini, ia sampai perlu dibantu oleh tiga orang karyawan untuk menjalankan usahanya.

Devi kian serius membangun bisnisnya dan aktif mengikuti berbagai pelatihan bagi usaha kecil dan menengah yang digelar oleh pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan, hingga menjadi salah satu binaan Pattiro Semarang

Mendaftar di Gulo Asem

Majunya usaha Devi salah satunya tak bisa dilepaskan dari peran Gulo Asem. Gulo Asem adalah semacam marketplace tempat UKM kuliner di Semarang bisa menjajakan produknya. Aplikasi yang diluncurkan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Pemerintah Kota Semarang pada 20 Maret 2020 ini memungkinkan Devi melebarkan target pasarnya.

“Awalnya tahu soal aplikasi Gulo Asem dari Pattiro,” Devi bercerita.

Kendati demikian, perjalanan usaha Devi sampai bisa terdaftar di Gulo Asem tidaklah mudah. UKM yang ingin bergabung harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan terdaftar di Gerakan Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro (Gerai Kop Mi). Sayang, dalam prosesnya Devi terkendala saat ingin membuat NIB.

Dalam diskusi kelompok terarah UKM Semarang yang digelar Pattiro pada 19 Maret 2020, Devi bercerita ia sudah pernah mendatangi Kantor Kecamatan Gunungpati untuk membuat NIB. Namun, proses yang sejatinya hanya butuh waktu satu hari itu justru tidak kunjung selesai, bahkan sampai lebih dari sepekan. Karena itu, selepas diskusi, Pattiro mendampingi Devi dan empat pelaku UKM lainnya mendatangi Kantor Kecamatan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Setelah Devi berhasil memperoleh NIB, ia kemudian mendaftarkan usahanya di Gerai Kop Mi. “Proses daftar Gerai Kop Mi juga tidak mudah karena pihak kecamatan justru belum memahami sistem online tersebut,” ujar Devi.

Sementara menunggu selesainya proses keanggotaan di Gerai Kop Mi, pihak pemerintah melakukan kurasi produk milik Devi. Devi menawarkan empat menu makanan: dua snack dan dua nasi kotak dengan rentang harga dari Rp10.000 hingga Rp25.000. Namun, karena terkendala administrasi, produknya dengan merek NDJ-19 itu belum bisa ditayangkan di Gulo Asem.

Setelah bolak-balik ke kantor kecamatan dan menjalin komunikasi intensif dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, produk Devi akhirnya berhasil terdaftar di Gerai Kop Mi pada 12 Mei 2020. Sehari kemudian, usaha katering NDJ-19 resmi tersedia di aplikasi Gulo Asem.

Melebarkan sayap

Pesanan pertama lewat Gulo Asem datang dari Dinas Komunikasi dan Informatika. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya 100 buah nasi kotak. Setelah pesanan pertama ini, Devi mulai mendapatkan pesanan-pesanan dari instansi lain.

Gulo Asem telah membantu memasarkan produknya. Ia kini tidak lagi hanya menjajakan produknya ke tetangga sekitar tapi juga secara meluas ke kalangan pegawai pemerintah.

“Alhamdulillah memang pesanan semakin banyak. Mungkin kalau tidak ada pandemi Covid-19 akan lebih banyak lagi,” ujarnya.

Terdaftar di aplikasi Gulo Asem benar-benar membuat Devi makin sibuk. Dalam sehari, ia bisa mendapat pesanan 50 sampai 100 nasi kotak. Kini, dalam sebulan ia bisa menghasilkan omzet hingga Rp 60 juta. Ke depan, ia berencana menjajakan menu yang lebih variatif untuk menarik perhatian konsumen.

Devi merasa Gulo Asem sangat membantu pelaku UKM seperti dirinya. Informasi kebutuhan katering bisa lebih terbuka dan transparan sehingga siapapun bisa menawarkan produknya kepada instansi pemerintah. Ia optimistis inovasi ini bisa mendorong perkembangan UKM di Kota Semarang.

Menggunakan aplikasi Gulo Asem juga sangat mudah. Pemilik UKM hanya perlu mengunduh aplikasi tersebut di Google Play Store. Saat ada instansi yang memesan, akan muncul notifikasi berisi jenis paket yang dipilih, jumlahnya, dan kapan pesanan itu dibutuhkan. Pemilik UKM hanya tinggal melakukan verifikasi.

Proses selanjutnya, pesanan akan diantar pada waktu yang telah ditentukan. Setelah itu instansi pemesan akan memproses dokumen administrasi untuk mencairkan pembayaran. Pelunasan biasanya bisa dilakukan seminggu setelah pemesanan.

Meski begitu, aplikasi Gulo Asem tentu ada kekurangan. Mulai dari proses administrasinya yang rumit hingga platform aplikasinya yang belum ramah pengguna. “Beberapa teman-teman UKM ada yang masih bingung syarat-syaratnya. Maklum banyak pelaku UKM yang belum melek teknologi,” ujarnya.

“Mungkin pelatihan dan pendampingan ke UKM perlu diperbanyak lagi,” Devi menambahkan.