Bangun Generasi Sehat: Q&A “Mendorong ketersediaan pangan sehat dan beragam bagi siswa”

Hivos berusaha agar semua orang memiliki akses pada pangan sehat, beragam, dan bergizi, berdasarkan metode produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di Indonesia, kami ingin mencapai ini dan membuat sistem pangan lebih baik. Salah satu upaya kami adalah memulai gerakan pangan sehat untuk anak-anak, memastikan kita membangun generasi sehat untuk masa depan. Tonton video “Bangun Generasi Sehat” dan baca bincang kami bersama Siti Latifah!

 

Siti Latifah dulu merasa bangga apabila dia bisa membelikan makanan ringan dan makanan instan untuk anak-anaknya. Namun dia menyadari bahwa hal tersebut tidaklah sehat dan merupakan tanggung jawabnya untuk mengajari kebiasaan makan yang baik ke anak-anak. Sekarang, sebagai seorang guru di Raudhatul Athfal (RA) Nuruzzaman, sebuah taman kanak-kanak Islam di Kabupaten Jember, Siti Latifah telah mempelopori pengembangan kantin sehat yang menyediakan makanan ringan bergizi untuk anak-anak dan mendorong mereka untuk membudayakan pola konsumsi makanan sehat sejak usia dini. Konsep kantin sehat ini menciptakan suatu dorongan dalam masyarakat untuk makan sehat dan diharapkan menjadi model bagi sekolah lain di kabupaten ini.

Bagaimana kantin sehat bisa membuat anak-anak untuk mau makan sehat?

SL: Anak-anak suka makan chiki-chiki dan makanan instan yang tidak sehat lainnya karena rasanya gurih dan membuat mereka merasa kaya. Saya memulai kantin sehat sebagai cara untuk mengajari anak-anak agar hidup sehat. Menurut pendapat saya, makanan sehat adalah makanan tanpa bahan penyedap atau pewarna makanan yang tidak alami.

Cilok adalah salah satu makanan kesukaan anak-anak. Di kantin sehat, kami membuat versi yang lebih sehat daripada cilok yang biasa di beli di jalanan. Kami mengurangi penggunaan tepung biasa, menggantinya dengan tepung tapioka dan beras. Kami juga menaruh sayuran di cilok kami – seperti wortel dan bayam pilihan yang kami ambil dari sekitaran sekolah. Dan kami membuat saus sendiri. Misalnya, tomat kan saat ini murah, jadi ibu-ibu membawakan tomat dan kami yang membuatkan saus dari tomat tersebut.

Pada awalnya sulit bagi anak-anak untuk menerima kantin sehat itu karena mereka merasa bahwa makanan kantin tidak seenak makanan ringan buatan pabrik atau masakan ibu mereka. Ditambah lagi, makanan tradisional kami dikemas dengan dedaunan, atau menggunakan piring, sedangkan yang dari pabrik menggunakan kemasan yang sangat bagus dan anak-anak lebih suka itu. Jadi, anak-anak meminta ibu mereka supaya memasukkan bahan perisa ke dalam makanan itu karena mereka awalnya tidak suka. Namun setelah enam bulan, mereka akhirnya beradaptasi dengan rasanya.

Siti Latifah (Photo by BrandOutLoud)

Mengapa mendidik ibu dan ayah juga penting?

SL: Mempromosikan makanan sehat ke anak-anak tidak akan efektif apabila tidak dipromosikan juga kepada orang tua. Ketika kami mengetahui bahwa para ibu membawa bahan perisa, kami mendukung para ibu untuk juga melatih anak-anak agar dapat hidup sehat dengan secara perlahan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam acara-acara pangan sehat. Itu sebabnya saya mendirikan ‘Sekolah Ibu’ dengan berbagai tema. Sebagai contoh, saat ini kami sedang membahas gizi seimbang – bagaimana kami dapat menyajikan makanan sehat di rumah sehingga keluarga kami bisa menjadi sehat. Saya mengajari para ibu cara menggunakan pewarna makanan alami, menggunakan daun pandan sebagai pewarna hijau dan buah naga untuk pewarna merah.

Tantangannya adalah ketika para ibu akhirnya mengubah pola makan dalam rumah tangga mereka. Mereka berhenti menggunakan pengawet atau pewarna makanan di dapur mereka sendiri, dan kemudian suami mereka melihatnya sebagai masalah. Para suami tidak suka kalau istri mereka mengubah cara memasaknya karena rasanya tidak seenak sebelumnya. Itu sebabnya sekarang suami saya juga mendirikan ‘Sekolah Ayah’, untuk mendidik para suami tentang pangan sehat.

Tingkat kesadaran para ibu tentang program kantin sehat hingga saat ini belum mencapai 100%, tetapi setidaknya ketika saya melihat masakan mereka, 40% dari mereka sudah membuat bekal makan siang yang sehat untuk anak-anaknya. Meskipun belum 100% dari para ibu, saya tetap bersyukur, karena mereka mulai berubah hanya dalam waktu singkat. Sekarang, kantin dikelola oleh para ibu yang telah dilatih tentang pangan sehat.

Bagaimana kita dapat memulai gerakan pangan sehat di Indonesia?

SL: Di Sekolah Ibu, kami memiliki pepatah, “Anak saya, anakmu, anak kita semua”. Kita tidak hanya harus peduli dengan keluarga kita sendiri. Kita juga perlu memikirkan komunitas kita. Kenapa? Karena jika anak-anak kita makan sehat namun tetangga kita tidak, maka ketika mereka bermain, anak-anak kita akan meniru. Kita harus membagikan pengetahuan kita.

Saya mengetahui pentingnya pangan sehat saat menghadiri acara Tanoker, terutama Pasar Lumpur, saya membawa anak-anak dan para ibu waktu itu. Kami bisa menemukan berbagai jenis makanan di Pasar Lumpur, itulah kenapa saya suka pergi kesana. Para ibu di desa saya biasanya memasak daun kelor atau ikan goreng dari laut, tetapi ikannya tidak harus selalu digoreng. Banyak cara yang dapat dilihat dalam memasak ikan di Pasar Lumpur. Kegiatan tersebut juga dapat membuat para ibu disini berkenalan dengan ibu-ibu dari daerah lain yang juga memasak berbagai masakan.

Jika kita menggunakan acara semacam ini untuk memperkuat masyarakat di tingkat bawah, seperti desa kemudian kecamatan, maka secara otomatis seluruh Indonesia juga akan sehat. Tetapi jika kita tidak memulai dari bawah, maka itu tidak akan berkelanjutan. Harapan saya adalah pemerintah juga akan mempromosikan pangan sehat. Apakah Anda akan membawa suara saya ke pemerintah untuk membuat mereka peduli tentang pangan sehat?

 

Tanoker, mitra dari Hivos dan IIED untuk program Sustainable Diets for All (SD4All) di Kabupaten Jember, telah memberikan dukungan kepada Siti Latifah terkait pangan sehat sejak tahun 2017. Kantin sehat yang ia mulai di RA Nuruzzaman adalah suatu cara menyediakan makanan sehat ke anak-anak sekolah yang dapat ditiru dan digunakan untuk membuat konsumsi pangan sehat menjadi tren yang lebih dominan. Cara kerja sekolah diharapkan menjadi model untuk pengembangan kantin sehat di sekolah lain dengan dukungan kebijakan dari Kementerian Agama Kabupaten Jember.

Wawancara ini diambil dari transkrip video ‘Bangun Generasi Sehat’. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kisah Siti Latifah dan kehidupan orang lain yang memperjuangkan pangan sehat di Indonesia, saksikan ‘Bangun Generasi Sehat’, yang diproduksi oleh Hivos dan IIED, bekerjasama dengan BrandOutLoud, untuk program SD4All.