Harapan Air Bersih untuk Semua

Dengarkan audionya:

 

Maria Tri Suhartini adalah anggota Paguyuban Keluarga Difabel Sedayu “Pinilih”, atau Kelompok Difabel Pinilih. Kelompok ini ia dirikan bersama para sejawatnya pada 27 Agustus 2017. Cita-cita mereka berorganisasi yaitu demi mewujudkan kehidupan yang mandiri dan sejahtera bagi para difabel di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dengan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Mereka rajin berkumpul di Taman Bacaan Masyarakat Helicopter Gobook Maos Argosari Sedayu.

Maria senang sekali ketika program Open Contracting yang dijalankan IDEA menyentuh Kelompok Difabel Pinilih. Program ini berfokus untuk mendorong terciptanya transparansi dari proses kontrak pada isu-isu publik yang melibatkan instansi pemerintah dan pihak lain. Ia mensyukuri manfaat yang dilihatnya secara langsung dalam kelompoknya.

“Setelah ada program tersebut, yang jelas teman-teman mulai bisa berpikir kritis,” ujar Maria. “Teman-teman pun langsung bisa merespons ketika ada persoalan. Kepercayaan diri mereka meningkat. Sekarang mereka lebih berani mengungkapkan pendapat di forum-forum desa.”

Setelah ada program Open Contracting, teman-teman bisa berpikir kritis dan bisa merespons ketika ada persoalan. Kepercayaan diri mereka meningkat. Sekarang mereka lebih berani mengungkapkan pendapat di forum-forum desa.

Keikutsertaan mereka dalam program tersebut membuat mereka belajar hal-hal baru, mulai dari penambahan pengetahuan mengenai hak-hak dasar mereka hingga peningkatan kemampuan untuk mengartikulasikan pendapat dan aspirasi mereka sebagai warga.

“Setelah mengadakan beberapa pertemuan dengan IDEA, para anggota Pinilih mulai ngobrol dengan pemerintah desa mereka masing-masing, dan menyampaikan beberapa usulan agar kebutuhan air bersih warga terpenuhi,” kenang Maria.

Positifnya, para perangkat desa pun menyambut baik. Mereka mau terlibat dalam program-program Kelompok Difabel Pinilih. Kini di setiap desa di Kecamatan Sedayu ada perwakilan Pinilih.

Setelah wabah Covid-19 melanda, memang banyak kegiatan mereka yang akhirnya tertunda. Tapi, bukan berarti program mereka tidak berjalan. Kreativitas menjadi kuncinya. Meski tidak bisa beraudiensi langsung, komunikasi bisa tetap berjalan melalui grup-grup WhatsApp. Pinilih pun merasa sangat terbantu dengan materi-materi visual yang dikirimkan IDEA.

“Sebenarnya kami bisa menyuarakan keluhan-keluhan lewat desa, memberi usulan lewat Musrembang dan rapat-rapat di desa. Kalau ada anggota Pinilih yang belum dilibatkan dalam forum-forum tersebut, biasanya mereka ngobrol dengan Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat-nya, atau lewat Sekretaris Desa-nya. Setiap desa enggak sama, tergantung kedekatan dengan perangkat desanya,” kata Maria.

Setelah banyak anggotanya memiliki kesadaran dan keberanian untuk bicara dengan perangkat desa masing-masing, Kelompok Difabel Pinilih dengan didampingi IDEA juga menjalin komunikasi dengan komunitas-komunitas lain di kecamatan berbeda. Setelah beberapa pertemuan, pada 4 Desember 2019 mereka akhirnya bersepakat membentuk Paguyuban Tirto Wening untuk menyuarakan pelbagai persoalan anggota kelompok mereka terkait akses air bersih.

Ada empat kelompok yang tergabung: Kelompok Perempuan Pedagang Jamu Jati Husada Mulya dari Kecamatan Sedayu, Kelompok Penerima Program Keluarga Harapan dari Kecamatan Kasihan, Pusat Belajar Anggaran dari Kabupaten Bantul, dan Kelompok Difabel Pinilih

Paguyuban Tirto Wening dibentuk sebagai forum yang berkoordinasi terkait masalah air bersih ke tingkat yang lebih tinggi. Sebab, tidak semua persoalan terkait air bersih bisa diselesaikan di tingkat desa, tapi juga harus ke level Pemkab (Pemerintah Kabupaten) yang mengoperasikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

“Setelah paguyuban terbentuk, kami diberi pelatihan lagi oleh IDEA. Kami pun mendalami lagi pengetahuan tentang pengelolaan air bersih,” kata Maria. “Berkali-kali ada pelatihan, sampai kami benar-benar siap untuk bicara langsung dengan Pemkab.”

Pada 14 Februari 2020, sebelum pandemi menghantam, mereka akhirnya berhasil menggelar audiensi dengan Pemkab Bantul. Dalam audiensi tersebut, Lina dan Rita dari kelompok Desa Prima Kecamatan Dlingo menyampaikan usulan penambahan jaringan perpipaan, baik dari PDAM maupun dari PAMSIMAS atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat untuk empat desa di Kecamatan Dlingo, antara lain Desa Dlingo (Dusun Kebosungu I dan Kebosungu II), Desa Terong (Dusun Rejosari dan Dusun Terong II), Desa Mangunan (Dusun Gumelem), dan Desa Munthuk.

Lalu Radinem dan Milu dari kelompok perempuan miskin di Kecamatan Kasihan menyampaikan usulan penambahan kuota program subsidi pemasangan sambungan rumah oleh PDAM untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Keduanya juga meminta agar PDAM melakukan uji mutu air bersih secara berkala dan mempublikasikan hasilnya. Terakhir, mereka mengusulkan agar Pemkab Bantul mendorong PDAM agar membuka informasi tentang bahan yang digunakan saat pemasangan jaringan atau Sambungan Rumah PDAM.

Wahyu dan Waris dari Kelompok Difabel Pinilih di Kecamatan Sedayu menyampaikan usulan tentang pentingnya keterbukaan informasi tarif PDAM kepada pelanggan, khususnya bagi warga miskin dan difabel saat akan dilakukan pemasangan Sambungan Rumah. Keduanya juga meminta agar Pemkab Bantul mendorong PDAM agar menetapkan tarif khusus untuk kelompok rentan dan memperbaiki prosedur operasional penanganan aduan warga.

Mereka menyampaikan usulan penambahan kuota subsidi pemasangan sambungan rumah, melakukan uji mutu air bersih dan mempublikasikan hasilnya, pentingnya keterbukaan informasi tarif PDAM khususnya bagi warga miskin dan difabel, dan menetapkan tarif khusus untuk kelompok rentan.

Maria berharap, Paguyuban Tirto Wening akan semakin baik lagi dan menjangkau lebih banyak warga di Kabupaten Bantul. “Karena Tirto Wening sudah memiliki pengetahuan mengkomunikasikan kepentingan masyarakat kepada pemangku kepentingan, harapan saya teman-teman bisa lebih aktif lagi menjaring aspirasi warga dan menyampaikannya kepada pemerintah,” katanya. “Paguyuban ini sudah cukup berhasil sebagai ajang peningkatan kapasitas diri para anggotanya. Maka akan lebih baik jika berdampak lebih luas lagi.”