Kolaborasi berbagai aktor dalam peningkatan kapasitas UMKM perkotaan:

Langkah menuju pembentukan platform pangan berkelanjutan di Yogyakarta

Hivos, melalui Program Sustainable Diets for All (SD4All) dan SWITCH Asia Local Harvest meningkatkan kapasitas pemilik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Yogyakarta untuk mengadopsi praktik-praktik pangan berkelanjutan. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kapasitas UMKM dalam memproduksi makanan dengan prinsip-prinsip Pangan Bijak yaitu lokal, sehat, adil dan lestari. Tujuan lain yang ingin dicapai adalah memperkuat kolaborasi antara Hivos dan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk membentuk platform pangan berkelanjutan di perkotaan.

Bersama dengan BAPPEDA Kota Yogyakarta dan komunitas Generasi Baru Dapur Indonesia (GBDI), Hivos menyelenggarakan pelatihan dalam 2 tahap. 20 peserta bergabung dalam pelatihan tahap pertama yang dilakukan pada tanggal 1-2 September 2020 dan 20 peserta lainnya berpartisipasi dalam pelatihan tahap kedua pada tanggal 7-8 September 2020.

Ke 40 peserta pelatihan – yang seluruhnya perempuan – berasal dari tiga kelompok UMKM di Yogyakarta yaitu Pakudaya, Kencanaboga dan Sempulur. Bisnis utama mereka adalah penyedia jasa catering untuk berbagai acara yang diselenggarakan oleh Pemkot Yogyakarta seperti pertemuan, seminar, workshop dan acara-acara lainnya.

Salah satu peserta pelatihan yang juga Koordinator UMKM Pakudaya, Asri Mikatsih, menceritakan pengalamannya mengikuti pelatihan tersebut. “Materi yang disampaikan adalah hal baru buat kami dan menarik. Cara menyampaikannya juga bagus sekali dibandingkan pelatihan-pelatihan yang pernah kami terima sebelumnya. Mudah dipahami, sederhana dan dengan pembagian waktu yang tepat,” jelas Asri.

Praktik cara mengolah makanan yang sehat (Photo: GBDI)

Asri menyatakan, ia dan peserta pelatihan lainnya tidak pernah mendengar tentang pangan sehat dan berkelanjutan sebelumnya. Karenanya, pelatihan ini menambah wawasan mereka dan bermanfaat sekali bagi dia dan kelompok UMKMnya.

Bagaimana rencana Asri mengimplementasikan pengetahuan baru ini dalam menjalankan bisnis katering kelompoknya? “Kami akan mulai dari hal-hal sederhana dulu, misalnya dengan kreasi menu baru yang ada bahan pangan sehat seperti ikan dan sayur. Kalau dulu kami tidak terpikir ke situ. Dalam mempersiapkan makanan, kami juga akan memperhatikan kebersihan pengolahannya,” kata Asri lagi.

Sementara itu, Ibu Swan, pemilik restoran terkemuka Dapur Solo, yang juga menjadi salah satu pelatih meyakinkan peserta bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip Pangan Bijak, akan meningkatkan reputasi bisnis mereka. “Kalau Ibu terapkan prinsip-prinsip lokal, sehat, adil dan lestari dalam usaha Ibu, pastinya usaha Ibu ndak akan rugi. Malah ini menjadi bahan promosi yang luar biasa untuk bisnis Ibu,” kata Ibu Swan.

Ny. Swan menjelaskan konsep Pangan Bijak kepada peserta pelatihan (Photo: GBDI)

Topik-topik pelatihan mencakup memahami pentingnya pangan yang sehat dan berkelanjutan, peran pengusaha makanan dalam meningkatkan konsumsi pangan yang sehat dan berkelanjutan, memahami prinsip-prinsip bisnis kuliner, dan strategi mengenali serta menggunakan peluang pasar. Modul terakhir dalam pelatihan tersebut adalah praktik memasak yang memotivasi peserta untuk membuat makanan yang sehat dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan bahan-bahan lokal, keamanan dan kebersihan makanan, serta praktik memasak yang sehat, serta menghasilkan menu yang kreatif, enak dan berkualitas.

Pelatihan-pelatihan ini adalah contoh kolaborasi inisiatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, UMKM dan inisiatif gastronomi (GBDI). Paling tidak, tiga pelatih utama GBDI berdomisili di Yogyakarta. Kolaborasi ini menjadi langkah konkrit awal yang akan membuka jalan bagi pembentukan platform lokal pangan berkelanjutan dalam naungan Program SWITCH Asia Local Harvest.

Yogyakarta menjadi salah satu kota tujuan Program SWITCH Asia Local Harvest untuk menjajaki pembentukan platform pangan berkelanjutan. Kolaborasi yang sama juga sedang dilakukan di Kota Bandung, di mana Hivos bekerjasama dengan berbagai pihak misalnya BAPPEDA, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) dan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung.

UMKM sebagai Aktor Kunci dalam Sistem Pangan Perkotaan

Kota Yogyakarta memiliki sebuah program pemberdayaan masyarakat bernama “Gandeng Gendong.” Program ini bertujuan untuk mempercepat penurunan kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat dan pada saat yang sama, juga memperkuat UMKM kuliner di Yogyakarta. Dengan kuliner lokalnya yang sudah berkembang dan tradisi UMKM yang kuat, platform pangan berkelanjutan di Yogyakarta – ketika siap nanti – akan menjadi suatu cara unik bagi pemangku kepentingan lokal untuk mengintegrasikan tradisi mereka dengan UMKM kuliner sebagai inisiatif di garis depan. Pendekatan berbasis lokal merupakan kunci dalam pengembangan sistem pangan berkelanjutan yang lebih tangguh.

Membangun kapasitas UMKM merupakan langkah strategis karena melibatkan pihak-pihak yang berpotensi besar dalam mempercepat pelaksanaan praktik-praktik pangan berkelanjutan dan yang melayani berbagai jenis konsumen mulai dari institusi pemerintahan (melalui penyediaan camilan dan makanan) hingga masyarakat umum. Terlebih lagi, peserta pelatihan ini dapat menjadi panutan sekaligus pelatih bagi pengusaha makanan lainnya, dan pada saat yang sama, sambil memainkan peran aktif dalam platform yang mewakili UMKM sebagai aktor sistem pangan utama.

Menjangkau Forum Nasional

Praktik kolaborasi multi pihak ini menjadi salah satu topik populer dalam pembahasan tentang platform nasional sistem pangan berkelanjutan, yang saat ini sedang digagas oleh Hivos dan BAPPENAS. Platform ini – yang telah menyelenggarakan sedikitnya empat webinar sejak April 2020 dan melibatkan pemangku kepentingan di tingkat nasional – berkomitmen untuk terus mempromosikan dan memanfaatkan pengetahuan, praktik terbaik, dan inovasi di tingkat lokal sebagai inspirasi dan pembelajaran di tingkat nasional.

Tanggungjawab kita bersama!

Membangun sistem pangan sehat dan berkelanjutan adalah tanggung jawab kita semua. Kita harus inklusif dalam menerapkan inisiatif apa pun untuk memahami tantangan sistemik di lapangan yang mungkin belum cukup ditangani oleh platform yang ada sekarang.  Perlu disediakan lebih banyak waktu dan upaya untuk melibatkan berbagai aktor sistem pangan termasuk UMKM, dengan dukungan aktif pembuat kebijakan terkait (terutama pemerintah daerah), sektor swasta, dan organisasi yang berperan dalam sistem pangan berkelanjutan. Inisiatif banyak aktor dalam sistem pangan lokal harus terus berkontribusi secara aktif dalam pembahasan sistem pangan Indonesia secara keseluruhan, menghubungkan pihak lokal dan nasional dalam berbagi pengetahuan dan bersama-sama mencari solusi yang sesuai untuk perubahan kebijakan, perilaku, dan praktik.