Kreativitas di Tengah Pandemi

Dengarkan audionya:

 

Awalnya pejabat di Pemerintah Kabupaten Bantul itu agak resisten ketika Meigita Utami dan rekan-rekannya di Perkumpulan Ide dan Analitika Indonesia (IDEA) memperkenalkan program Keterbukaan Kontrak kepada mereka. Tapi Meigita pandai membaca situasi.

“Kami mengubah cara berkomunikasi, bahwa program kami tidak bicara Keterbukaan Kontrak, tapi tata kelola,” kenang Meigita. “Jadi, nama program yang kami bawa adalah ‘Tata Kelola Air Bersih di Bantul’. Setelah dari isu transparansi dan akuntabilitas, baru kami kemudian mulai masuk ke keterbukaan kontrak.”

Keterbukaan Kontrak adalah program yang mendorong transparansi data publik, khususnya terkait proses kontrak. Melalui program ini, data dan dokumen terkait keseluruhan proses kontrak dibuat terbuka agar dapat digunakan kembali oleh publik. Di Bantul, Yogyakarta, program Keterbukaan Kontrak berfokus pada isu air bersih. Hal ini dimaksudkan agar proses penyusunan kontrak antara pemerintah dan PDAM menjadi transparan, adil, dan efisien demi tata kelola dan akses air bersih yang lebih baik.

Cerita di awal tadi hanyalah satu persoalan kecil yang dihadapi Meigita dan kawan-kawan. Namun, ada persoalan yang jauh lebih besar yang tidak pernah mereka duga: wabah COVID-19. Padahal, programnya sendiri baru dimulai pada Oktober 2019, sekitar empat bulan sebelum kasus COVID-19 pertama diumumkan di Indonesia. Situasi ini bukan hanya mengganggu jalannya program, tapi juga seluruh sendi kehidupan.

“Dari Maret sampai Juli, kami tidak bisa tatap muka dengan warga yang kami damping,” kata Meigita.

Bagaimanapun hidup harus berlanjut. Meigita dan rekan-rekannya harus memutar otak agar program tetap berjalan. Tapi sekali lagi mereka pandai membaca situasi. Di tengah situasi serba sulit yang mengharuskan semua orang menjaga jarak, mereka akhirnya menggunakan platform daring yang tersedia.

“Kami juga memproduksi video edukasi yang kemudian kami bagikan kepada warga agar mereka bisa tetap mendapat materi,” cerita Meigita.

Materi edukasi tersebut kemudian disebarkan melalui WhatsApp karena warga binaan IDEA adalah warga perdesaan yang lebih familiar menggunakan platform tersebut.

Pada awalnya, sebagian besar warga di Bantul tidak tahu-menahu bahwa penyediaan air bersih merupakan kewajiban pemerintah sesuai mandat Undang-Undang. “Makanya kami memberi tahu mereka bahwa air bersih adalah hak dasar,” kata Galih Pramilu, rekan Meigita. “Setelah itu, baru kami mendorong partisipasi warga untuk tata kelola dan pengawasan pengadaaannya.”

Kami memberi tahu mereka bahwa air bersih adalah hak dasar. Setelah itu, baru kami dorong partisipasi warga untuk tata kelola dan pengawasan pengadaannya

Kelompok Difabel Pinilih dan Kelompok Perempuan Miskin Kecamatan Kasihan adalah dua kelompok warga binaan IDEA. Mereka cukup mengerti soal anggaran dan bantuan sosial karena mereka sudah terbiasa menerimanya. Namun, mereka sama sekali belum terbiasa berserikat dan ikut menyampaikan pendapat.

Karena itu, tantangan IDEA selanjutnya adalah mencari cara agar warga mulai bisa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah, terutama terkait akses air. Tentu saja itu jalan panjang yang harus dijalani perlahan-lahan.

“Pertama-tama kami memberi tahu bahwa mereka punya hak suara di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dari tingkat desa hingga tingkat kabupaten,” kata Meigita. Nah, setelah mereka terbiasa bersuara di desa, lanjut ke kecamatan, baru kemudian warga tersebut didorong untuk membuat saluran aspirasi agar bisa didengar oleh pemerintah kabupaten.  “Kalau di desa bisa perorangan, (tapi) kalau di kabupaten kan harus melalui komunitas atau terlembaga.” Dari situlah IDEA memfasilitasi pembentukan Paguyuban Tirtowening.

Sebenarnya, para warga desa ini sebelumnya sudah memiliki komunitas sendiri-sendiri. Namun mereka bersepakat untuk membentuk komunitas lebih besar lintas kecamatan yang bisa memayungi semuanya. Cara ini ditempuh agar mereka bisa bersuara di level kabupaten, khusus membahas air bersih.

Kedepannya, payung bersama ini sangat penting bagi para warga desa untuk menyalurkan aspirasi pada isu-isu lainnya. Sementara IDEA tetap membantu mereka untuk bisa mengakses pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan mengenai hak-hak dasar mereka.

Menurut Meigita, warga Bantul senang belajar hal baru, terutama kelompok difabel. Pengetahuan tentang hak-hak dasar tersebut membuat mereka percaya diri: “Saya harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan pemerintah pembangunan,” kata Meigita menirukan salah satu warga binaannya.

Selain menjalankan kegiatan penyuluhan, Meigita dan rekan-rekannya juga membantu warga dengan melakukan lobi terhadap pemerintah, baik secara formal maupun informal. IDEA berusaha bersinergi, tidak hanya dengan warga, melainkan juga dengan pemerintah. Mereka pun terlibat dalam pelbagai kegiatan Pemkab Bantul.

IDEA berusaha bersinergi, tidak hanya dengan warga, melainkan juga dengan pemerintah. Mereka pun terlibat dalam pelbagai kegiatan Pemkab Bantul

“Dari awal kami sampaikan, program ini untuk membangun, bukan mengkritisi,” kata Meigita. “Pemerintah kan selalu menganggap NGO hanya bisa mengkritisi. Setelah melihat proses tata kelola air di Bantul, kami sampaikan rekomendasi kami agar penyediaan air bersih lebih transparan dan partisipatif.”

Dari pengalaman ini, Meigita dan Galih mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama tentang pentingnya kesadaran setiap warga negara tentang hak-hak hak dasar mereka, terutama bagi kelompok-kelompok rentan yang sering dipandang sebelah mata. Kedua, partisipasi warga yang merupakan elemen terpenting dalam demokrasi bukanlah buah yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan terus-menerus.

Selain itu, yang ketiga, IDEA juga mengambil pelajaran tentang pentingnya menyesuaikan cara berkomunikasi dengan konteks dan lawan bicara. Materi-materi yang bisa dijangkau warga, misalnya, adalah dengan menggunakan bahasa sehari-hari mereka, maupun teknologi yang dekat dengan mereka. “Awalnya kami tidak terbiasa ketika harus belajar bersama teman-teman difabel, terutama dengan mereka yang tuli,” terang Meigita. Tapi IDEA pun bisa beradaptasi dengan cara mengubah metode komunikasi dan juga menggunakan juru bicara isyarat.