Memasak Untuk Masa Depan: Gastronot Muda dari Bandung

By: M. Rianto Utama (Tommy)

 

Gastronomi – praktek atau seni memilih, memasak, dan mengkonsumsi makanan yang baik – bukan dominasi para chef atau penikmat kuliner (foodies) lagi. Sekitar 100 pelajar dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 200 Luewipanjang dan SDN 033 ASMI di Kota Bandung telah membuktikan bahwa mereka juga bisa menjadi pelaku gastronomi. Dimulai dari bermain menggunakan board game makanan sehat, menanam bersama komunitas petani urban, lalu memasak bersama para chef, para pelajar SD tersebut menunjukkan bahwa gastronomi itu punya nilai universal dan terbuka untuk semua. Siapa lagi kalau bukan mereka yang akan memasak pangan sehat dan lokal untuk masa depan?

Proyek Gastronomi Inklusif di Kota Bandung bertujuan untuk memberikan ruang bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah sehingga kebutuhan mereka sebagai pemangku kepentingan memegang peranan lebih penting dalam gerakan gastronomi. Proyek ini berfokus pada kegiatan penyelenggaraan festival makanan menargetkan anak-anak, guru dan orang tua di dua Sekolah Dasar di Kota Bandung. Festival melibatkan sekolah karena sekolah bisa berfungsi sebagai pusat interaksi masyarakat dan anak usia 6-12 tahun harus mendapatkan asupan gizi yang seimbang untuk membangun generasi sehat dan mencetak SDM yang berkualitas.

Untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pangan bijak dan kebiasaan makan sehat, Hivos bekerjasama dengan Kummara (perancang game), House The House (koordinator festival), Komunitas 1000 Kebun (komunitas petani urban), dan Generasi Baru Dapur Indonesia (New Generation Indonesian Cooking, organisasi lokal yang mempromosikan konsumsi pangan sehat dan berkelanjutan). Mereka menyampaikan pesan mengenai asupan gizi yang seimbang dalam sebuah kegiatan interaktif dengan protokol “Main-Metik-Masak”.

  • Main atau Mainkan memiliki arti bahwa kegiatan harus memuat konten pembelajaran terkait dengan gizi seimbang atau pola makan sehat dan disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
  • Kegiatan dilanjutkan dengan Metik, atau belajar peduli tentang sumber makan sehat. Metik juga memberikan konsep bahwa kita harus ketahui dimana bahan-bahan makanan diperoleh, baik dengan menanamnya sendiri atau membelinya di pasar.
  • Masak menjelaskan bahwa mengolah bahan-bahan menjadi makanan jauh lebih sehat daripada mengonsumsi makanan pabrikan. Bahan baku dari hasil Metik diolah menjadi makanan.

Permainan Gastronot sebagai media pembelajaran

Untuk menyampaikan pesan secara efektif, proyek ini menggunakan metode pembelajaran melalui permainan (board game). Melalui metode yang interaktif ini, informasi mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam gerakan gastronomi dapat diserap dengan mudah oleh generasi muda. Dalam diskusi bersama Dinas Kesehatan Kota Bandung – anggota platform GBDI – yang memiliki program Bekal Anak Sekolah Bergizi Enak dan Murah (Beas Beureum), beserta pemangku kepentingan lainnya seperti Dinas Pendidikan Kota Bandung, Komunitas 1000 Kebun, dan House The House, maka disusunlah Permainan Gastronot.

Permainan Gastronot dirancang khusus berdasarkan konsep Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan dan konsep Isi Piringku. Kedua konsep ini merupakan kampanye dari Kementerian Kesehatan sebagai pembaruan 4 sehat 5 sempurna, dalam rangka meningkatkan kebiasaan hidup sehat di masyarakat. Konsep-konsep tersebut kemudian diolah menjadi konten yang disampaikan melalui Board Game Gastronot. Para pemain terbagi menjadi 2 kelompok dan bersaing untuk mendapatkan nilai tertinggi dari kombinasi bahan makanan yang proporsional.

Main, Metik, Masak

Festival Gastronot yang dilaksanakan di SDN 200 Lewuipanjang dan SDN 033 Asmi – salah satu sekolah dibawah program Beas Beureum – melibatkan 48 murid dari kelas 5 dan 6 dan dibagi menjadi 6 kelompok. Sesi MAIN dimulai dengan penjelasan bahwa mereka akan bersaing untuk mengumpulkan makanan bergizi dari planet-planet yang berbeda. Kelompok dengan poin terbanyak akan menjadi pemenang. Cerita awal ini membuat anak-anak bersemangat dan tidak sabar untuk mencoba permainan. Dalam waktu singkat, anak-anak mengerti cara bermain dan mereka tidak ragu untuk bertanya jika mengalami kesulitan atau ada hal-hal yang tidak mereka pahami.

Setelah bermain, fasilitator dari komunitas 1000 Kebun memberikan pertanyaan kepada para peserta mengenai komponen nutrisi dalam makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Anak-anak kemudian mampu menjelaskan efek kekurangan atau kelebihan komponen nutrisi.

Dalam sesi METIK, fasilitator memandu kelompok anak-anak untuk menanam sayur pakchoy. Anak-anak mengisi media tanam ke botol-botol dan memasangnya di taman vertical. Mereka bersemangat mengikuti setiap tahapan dan saling membantu jika ada yang kesulitan. Beberapa anak-anak secara aktif bertanya kepada fasilitator tentang cara merawat tanaman. Aktivitas kemudian dilanjutkan dengan memetik pakchoy yang siap panen dan mencucinya untuk dijadikan bahan memasak.

Dalam sesi MASAK dengan Generasi Baru Dapur Indonesia yang dipimpin oleh Chef Ricky dan Chef Teddy, anak-anak sangat antusias membuat hidangan, salah satunya tumis kentang dengan sayuran dan Telur dadar. Mereka bisa mengikuti semua tahapan dalam membuat makanan. Setelah itu, anak-anak juga bersemangat untuk mengambil bagian dalam kegiatan interaktif seperti menyusun tumpeng gizi seimbang dan puzzle tematik yang diselenggarakan oleh tim GBDI untuk menutup rangkaian acara festival gastronot.

Kenza, salah satu peserta berujar, “Tadi seru mainnya, kami diajak berkeliling ke planet-planet untuk mencari makanan yang sehat. Kami belajar tentang kesehatan, sayuran, dan buah-buahan, karena makanan itu harus yang bergizi, bervitamin, dan berprotein”.

Sebelum dan sesudah acara, anak-anak mengisi kuesioner untuk mengukur kondisi nutrisi mereka secara mandiri dan tingkat pengetahuan mereka mengenai Gizi Seimbang dan konsep Isi Piringku. Hasil kuesioner menunjukkan adanya peningkatan kesadaran tentang informasi Gizi Seimbang, terutama proporsi makanan lengkap (pesan utama kampanye Isi Piringku).

Bermain Untuk Belajar Bersama

Dari kegiatan festival Gastronot ini, protokol Main-Metik-Masak merupakan metode penyampaian pesan yang bisa diaplikasikan di tingkatan umur yang berbeda dan di berbagai daerah di Indonesia. Bentuk permainan yang digunakan sebenarnya tidak melulu harus menggunakan Board Game Gastronot, tapi Board Game Gastronot juga dapat mengadopsi ke-khas-an lokal seperti misalkan di daerah Indonesia Timur sumber karbohidratnya diganti dengan sorghum atau sagu. Kegiatan Metik maupun Masak juga bisa disesuaikan dengan kondisi setempat. Jika tidak memungkinkan untuk menanam bahan makanan ataupun memasak sendiri, anak-anak bisa mendapatkan sumber makanan dari pedagang setempat yang sesuai dengan kaidah gizi seimbang. Secara singkat, gastronomi bisa menjadi inklusif, selama disampaikan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta.

Gastronot di Jember

Board game Gastronot tidak berhenti di Bandung. Dalam waktu dekat, permainan tersebut akan dimainkan di Jember, Jawa Timur, bersama anak-anak di kecamatan Ledokombo, dimana Tanoker (mitra Hivos program SD4All) berada. Tempat yang baru ini diharapkan dapat menghasilkan pengalaman dan pembelajaran yang baru, karena tiap daerah memiliki potensi dan keunikan masing-masing.