NTFP-EP giat berkampanye Pangan Bijak di masa pandemi

Pandemi boleh merebak, tetapi perjuangan untuk edukasi dan advokasi pangan bijak (pangan lokal, sehat, adil, dan lestari) harus terus bergerak. NTFP-EP Indonesia atau Non-Timber Forest Products – Exchange Program Indonesia, salah satu mitra Hivos untuk program Sustainable Diets for All (SD4All), sedang giat-giatnya melobi Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ketika pandemi Covid-19 menyergap. Tidak hilang akal, NTFP-EP langsung menjalankan strategi lain: kampanye pangan bijak lewat media sosial.

Dengan dukungan Hivos, NTFP-EP langsung menggalang kerjasama dengan berbagai pihak, menghimpun kekuatan agar lebih banyak pihak yang sadar tahu pangan bijak. NTFP-EP berkolaborasi dengan Generasi Baru Dapur Indonesia (GBDI) yang dimotori oleh sepuluh chef pelatih, di antaranya Chef Henry Alexie Bloem, Chef Handry Wahyu Sumanto dan Chef Chandra Yudaswara.

GBDI mengedukasi masyarakat tentang pangan bijak lewat unggahan-unggahan di media sosial. Salah satu contoh kampanye GBDI misalnya menjelaskan bahwa sagu adalah karbohidrat dengan indeks glikemik lebih rendah dibandingkan padi dan terigu, bebas gluten dan berserat tinggi.  Jadi, sagu adalah makanan yang mengenyangkan dan sehat. Unggahan yang dikemas dalam desain yang apik dan menarik ini dipublikasikan lewat akun Instagram GBDI atau @genbarudapur.id pada Juli 2020. Unggahan lain bercerita tentang Sorgum Flores (makanan pokok asli masyarakat Flores/Nusa Tenggara Timur) yang memiliki kandungan nutrisi lengkap, kaya serat dan antioksidan. Dalam unggahan-unggahan tersebut, selalu disematkan tagar #panganbijak #panganlokal dan #pangansehat.

NTFP-EP Indonesia juga bekerjasama dengan influencers, bloggers, salah satu stasiun radio di Jakarta (I-Radio FM). Sementara itu, bersama komunitas lokal di Kapuas Hulu yang bernama Putussibau Art Community, NTFP-EP menyelenggarakan lomba yang mengajak masyarakat untuk mengunggah foto dan video yang mempromosikan pangan lokal Kapuas Hulu. Kegiatan ini sempat beberapa kali diunggah ulang oleh salah satu akun instagram komunitas lokal sehingga membantu kampanye secara lebih luas. Kolaborasi lainnya adalah pembuatan jingle dan video pangan lokal Kapuas Hulu.

Berbekal follower yang jumlahnya ribuan, para chef berperan strategis sebagai pembentuk opini, yang mengajak dan mempengaruhi berbagai kalangan untuk ikut dalam gerakan pangan bijak nusantara. Kiprah mereka mempercepat proses adopsi praktik-praktik pangan bijak ke lebih banyak pihak termasuk pemerintah, media dan pelaku industri makanan di Indonesia.

Para chef juga menyelenggarakan berbagai pelatihan cara mengolah bahan pangan lokal yang dikemas dalam “Seri Pengolahan Bahan Pangan Lokal” dari tanggal 16 hingga 22 Mei 2020. Peserta pelatihan dibagi ke dalam beberapa kategori seperti pengusaha jasa katering, pemilik restoran dan café, pedagang kaki lima (PKL) dan pengusaha kantin dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Ada 5 pelatihan yang diselenggarakan dalam kurun waktu satu minggu tersebut. Salah satunya dapat dilihat dalam tautan ‘Pelatihan Online GBDI’ ini.

Dalam pelatihan, para chef berkreasi menciptakan menu makanan yang menggunakan delapan pangan lokal seperti Sagu Sungai Tohor dan Sagu Baruk Sangihe, Sorgum Flores, Sirup Pala Bayang Bungo Indah dari Sumatera Barat, virgin coconut oil (VCO) Nyiur Terpadu dari Indragiri Hilir, Teri Duo “Penja” dari Sulawesi Tengah, Beras Hitam Adan Krayan dari Kalimantan Timur, madu hutan dari Sulawesi Tenggara dan Rebung Kering dari Kalimantan Barat.

Kiprah para chef ini merupakan buah dari kegiatan peningkatan kapasitas master trainer yang dilakukan Hivos melalui GBDI sepanjang Juli hingga awal Desember 2019.

“Pada pertengahan Desember 2019, Hivos menghubungkan kami dengan GBDI untuk menjajaki kerjasama,” cerita Merry Tobing, Enterprise Development Officer NTFP-EP Indonesia. “Pada 28 April 2020, kami mulai berkomunikasi dengan GBDI yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan kerjasama untuk edukasi dan kampanye daring pangan bijak pada tanggal 8 Mei 2020.”  Sepanjang Mei 2020, NTFP-EP menyediakan stok pangan lokal sebagai bahan yang digunakan oleh para chef pada saat pelatihan daring pangan bijak.

Srikandi Pangan Bijak Nusantara

Kampanye pangan bijak nusantara juga dilakukan oleh individu. Sebut saja Theresia Eko Setyowati dan Martha Kavung, dua aktivis isu perempuan dan pangan lokal yang rajin melakukan edukasi lewat akun Instagram dan facebook mereka.

Theresia dan Martha menjawab tantangan NTFP-EP Indonesia untuk mengunggah foto dan video tentang pangan lokal. Sepanjang Mei hingga Juni 2020, Theresia telah mengunggah 17 konten di akun instagramnya (@setyowati5614) dan Martha mengunggah 12 konten di akun @martha_kavung, dengan menggunakan tagar #panganbijak #panganlokal #pangansehat #panganadil #panganlestari.  Mereka berbagi informasi tentang menu makanan yang menggunakan pangan lokal, cara memasaknya, serta manfaat bahan pangan lokal tersebut.

“Saya bangga makan makanan hasil tanam sendiri. Selain sehat, juga sangat membantu ekonomi keluarga,” jelas Martha. Ia bercerita, anak-anaknya juga menanam sawi, kangkung dan buncis di halaman rumahnya.

“Dengan mengunggah foto dan video tentang pangan lokal, saya mau mengajak masyarakat kembali ke pangan lokal,” jawab Martha. Ia pernah mengunggah video cara mengolah bulung, makanan kecil khas suku Dayak Bahau yang menggunakan singkong. “Orang yang melihat video saya jadi ingin makan bulung. Beberapa bahkan membuat bulung,” ceritanya lagi.

Theresia menilai bahwa kegiatan photo/video challenge yang diselenggarakan NTFP-EP adalah promosi yang menarik dan memacu orang untuk mengenal dan mencintai bahan pangan lokal yang sudah dilupakan. “Di masa pandemi, menggali sumber pangan lokal adalah strategi yang baik untuk memperkuat ketahanan pangan,” tegas Theresia.

Pada bulan Agustus 2020, dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia, Theresia Eko mengadakan lomba mengolah bahan makanan non-beras dan terigu serta minuman sehat bersama kelompok “Ibu Jamu Seger Waras,” tetap dengan menggunakan tagar #panganbijak #panganlokal # pangansehat #pangan adil #panganlestari. Pada kesempatan itu diperkenalkan juga mie sagu. NTFP-EP Indonesia mendukung lomba ini dengan menyediakan mie sagu dan hadiah lomba seperti kaos pangan bijak dan masker serat bambu dengan tagar #pangan bijak.

Kegiatan tantangan mengunggah foto dan video ini akhirnya menjadi media edukasi tentang pangan lokal bagi kurang lebih 3.500 follower akun instagram @ntfpepindonesia dan mitra-mitranya seperti @parara.id, @panenrayanusantara, dan @putussibau.artcommunity. NTFP-EP pun mendapatkan banyak informasi tentang pangan lokal yang sebelumnya tidak diketahui. Karenanya, hasil kampanye yang diperoleh akan dikemas menjadi bahan advokasi dan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, yang sempat terhenti karena pandemi.

Kampanye Pangan Bijak Nusantara diharapkan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang prinsip-prinsip pangan yang lokal, sehat, adil dan lestari. Masyarakat diadvokasi agar mengadopsi pola konsumsi, produksi, dan distribusi yang berkelanjutan, sehingga bahan pangan yang sehat dan bergizi tersedia cukup bagi masyarakat saat ini dan generasi selanjutnya.