Para penggiat pangan sehat membantu masyarakat dalam memilih makanan

Di Jember, Indonesia, anak-anak dan remaja terkena dampak dari kebiasaan makan makanan yang tidak sehat. Isnatul Mu’allifin menjelaskan bagaimana generasi saat ini menggunakan data terkait asupan pangan masyarakat yang diperoleh dari masyarakat untuk mendorong perubahan nyata yang positif.

Oleh: Isnatul Mu’allifin, Tanoker

Lebih dari setengah populasi anak yang mengalami malnutrisi di dunia berada di kawasan Asia Pasifik. Dari tahun 2000 hingga 2017, terdapat angka pertumbuhan tertinggi anak yang kelebihan berat badan dan obesitas di Asia Tenggara, dimana jumlah anak bawah lima tahun yang kelebihan berat badan dan obesitas berjumlah lebih dari dua kali lipat. Selain malnutrisi dan obesitas, Indonesia saat ini juga mengalami masalah kekurangan mikronutrien. Ketiga masalah ini disebut ‘tiga beban malnutrisi’. Makanan yang tidak sehat dan makanan olahan menjadi faktor munculnya malnutrisi tersebut. Upaya mengubah perilaku, khususnya pada anak-anak dan remaja, akan semakin ditingkatkan.

Menggunakan jurnal pangan harian guna memahami pilihan pangan sehat

Tidak banyak data yang menjelaskan mengenai apa yang masyarakat Indonesia konsumsi beserta alasannya. Sebuah studi yang dilakukan Hivos, IIED, Universitas Jember dan komunitas Tanoker mencoba mengisi kesenjangan data tersebut. Studi telah dilakukan sebagai bagian implementasi program Sustainable Diets for All (SD4ALL) yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda.

Studi dan data telah dianalisa oleh masyarakat di Jember agar lebih memahami asupan makanan masyarakat dan faktor apa saja yang memengaruhi masyarakat dalam memilih makanan mereka. Terdapat 97 keluarga di enam kecamatan berpartisipasi dalam studi tersebut. Setiap keluarga mengisi jurnal pangan harian, dengan mencantumkan makanan dan minuman yang akan mereka konsumsi selama tujuh hari.

Studi tersebut menemukan bahwa banyak responden yang tidak mencapai target minimum keragaman menu harian. Hal ini dapat menjadi masalah nutrisi seperti obesitas. Harga makanan, kurangnya waktu, kebiasaan, pilihan selera dan meningkatnya nafsu makan makanan cepat saji mendorong konsumsi yang tinggi terhadap makanan murah, makanan yang diproses, manis dan yang mengandung monosodium glutamate (MSG). Faktanya, hampir setiap empat dari 10 anak berusia lima hingga 18 tahun tidak memiliki ragam asupan yang bervariasi.

Anak-anak: memperjuangkan pangan sehat

Tanoker membantu mengatasi masalah tersebut melalui kerja sama dengan masyarakat setempat dan pemangku kebijakan untuk membuat anak-anak dan keluarga memilih menu pangan sehat. Dalam budaya Indonesia, perempuan memiliki peran untuk membeli dan menyiapkan makanan untuk keluarga, sehingga kerja Tanoker dimulai dengan menjangkau para ibu dan bapak dengan menyadari bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa partisipasi mereka.

Usaha Tanoker tersebut memprioritaskan anak-anak dan remaja sebagai agen perubahan. Lebih dari tiga puluh orang warga berusia antara 9 hingga 18 tahun dilatih sebagai ‘penggiat pangan sehat’ yang tergabung dalam sebuah ‘Forum Anak’. Di sini, mereka belajar tentang kesehatan dan nutrisi dan dilatih untuk bicara mengenai pilihan hidup sehat pada keluarga dan kerabat mereka. Wakil Forum Anak juga telah mengikutsertakan pemangku kebijakan di kecamatan Ledokombo, berkontribusi menyediakan wadah konsultasi dengan pemerintah mengenai pangan sehat.

Cerita Tiara

Mutiara – atau Tiara, panggilannya – adalah murid sekolah tingkat akhir dari Ledokombo yang juga merupakan ketua Forum Anak. Dia berjuang untuk mengubah kebiasaan makan di komunitasnya. Kebiasaan makan makanan tidak sehat Tiara-lah yang menyadarkannya untuk berubah. Ia ingat beberapa kejadian saat ia menyadari dampak dari minuman dengan perasa: “Terkadang setelah minum minuman dingin dari jajanan di jalan, tenggorokan saya sakit, dan saya mulai batuk.” Satu hari ia membaca artikel mengenai bahaya makanan tidak sehat. Ia menjadi cemas: “Saya takut ketika membaca artikelnya. Di situ diberitakan bahwa banyak orang yang langsung sakit ketika makan dengan bahan pengawet terlalu banyak”.

Tiara. Foto: Tanoker / Ian Rahmadi

Setelah berniat untuk mengubah kebiasaanya Tiara kembali lagi kepada kebiasaan buruknya. Tapi semuanya berubah ketika ia bergabung dengan program Tanoker dan mendapatkan pengetahuan mengenai pangan sehat dan nutrisi. Ia kemudian memutuskan untuk mengajak orang-orang beralih ke pangan sehat, dimulai dari keluarganya. Namun ia sadar bahwa semua usaha butuh waktu.

Langkah pertama adalah dengan menolong ibunya mengurangi takaran bahan penyedap dalam masakan di rumah. “Ibu dan ayah saya dulu selalu bilang kalau makanan belum lengkap tanpa bahan penyedap – terasa hambar,” kata Tiara. “Tapi saat ibu melihat saya batuk setelah minum dan makan tidak sehat, ia kemudian sadar bahwa ini adalah kebiasaan yang tidak baik. Walaupun makanan itu rasanya hambar awalnya, tapi kemudian kami terbiasa. Dan kini ibu saya yang memberitahukan orang-orang untuk mengurangi bahan penyedap”. Akhirnya, Tiara mampu meyakinkan keluarganya untuk berhenti menggunakan bahan penyedap.

Dari keluarga, hingga teman-teman dan masyarakat

Tiara mulai dengan menentukan pilihan pangan yang lebih baik bagi dirinya berdasarkan yang ia pelajari. Ia mulai memilih makanan ketika jajan untuk dirinya sendiri dan ia berusaha untuk menginspirasi teman-temannya untuk mulai memakan pangan sehat – membagikan pengalamannya untuk mengubah kebiasaan makan mereka. Dan tidak hanya disitu, ia telah menjadi contoh untuk anak-anak dan dan keluarga lain di komunitasnya, dan aktif mengkampanyekan pangan sehat di tingkat kecamatan.

Temuan studi ini menekankan pada aksi nyata yang perlu dilakukan untuk memperbaiki pola makan di Jember. Kerja Tanoker dengan anak-anak dan remaja dapat diperluas untuk memperbaiki budaya makan di sekolah, merangkul tukang jualan di jalanan untuk menjual makanan dan minuman sehat, membangun sebuah pendekatan yang mengajak seluruh anggota keluarga untuk menyediakan pangan sehat di rumah, dan mendukung pangan sehat menggunakan kekayaan pangan lokal. Seluruh inisiatif ini membutuhkan pejuang pangan sehat seperti Tiara untuk mendorong generasinya memilih masa depan sehat bagi dirinya sendiri.


Judul                       : Tiga beban malnutrisi Indonesia.                                                                  Seruan mendesak untuk perubahan kebijakan

Tahun                     : Desember 2019

Penulis                   : Universitas Jember dan IIED

Jenis file                : pdf

 

 

DOWNLOAD


 

Isnatul Mu’allifin bekerja untuk Tanoker dalam mendukung Forum Anak