Q&A: Anak-anak yang sehat membangun masyarakat yang sehat

Sejak Haji Jono Wasinudin terpilih sebagai Camat Ledokombo di Indonesia, ia menemukan banyak masalah kesehatan di Kecamatan Ledokombo. Bersama dengan Unit Pelaksana Teknis, ia menyelesaikan masalah tersebut dengan melaksanakan berbagai program untuk Ledokombo yang lebih sehat.

Apa yang menginspirasi dan memotivasi Anda untuk membuat Ledokombo lebih sehat?

JW: Upaya-upaya dalam melawan stanting di Kecamatan Ledokombo tidak seperti yang saya harapkan. Pada bulan November 2018, terdapat lebih dari 351 anak di 10 desa yang kekurangan gizi.

Kami berusaha untuk meningkatkan upaya-upaya kami secara bertahap, melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah tetapi juga oleh komunitas berbasis masyarakat. Misalnya, dengan Tanoker, kami berkolaborasi dalam berbagai kegiatan komunitas untuk menyediakan lebih banyak akses ke pangan sehat.

Terlepas dari itu, karena saya berasal dari latar belakang pendidikan terkait kesehatan, saya bisa bilang bahwa kesehatan adalah masalah penting di Ledokombo. Masalah kesehatan disini tidak hanya stanting, tapi juga HIV, malaria, dan TBC. Berdasarkan situasi saat ini, promosi kesehatan di Ledokombo masih relatif jauh di belakang beberapa kabupaten di Jember yang lebih dekat dengan daerah perkotaan. Hal ini memotivasi kami untuk menjadikan Ledokombo sebagai daerah yang lebih baik dan lebih layak huni untuk komunitasnya, termasuk anak-anak.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ledokombo telah aktif dalam mengorganisirkegiatan yang melibatkan masyarakat. Antusiasmenya datang darimana? Apakah Bapak menemukan tantangan?

JW: Upaya kami terinspirasi dari apa yang kami lihat setiap hari. Kami ingin membangun Ledokombo yang lebih baik. Untuk melakukan itu, kami perlu mengembangkan dan memberdayakan orang-orang yang dapat mulai dari diri mereka sendiri, berinvestasi pada anak usia dini. Kalau anak-anak sehat, Insya Allah, generasi kita berikutnya akan memiliki masa depan yang lebih baik.

Kami mendorong anak-anak untuk terbiasa makan tiga kali sehari, berdasarkan syarat nutrisi seimbang. Kami tidak memberi mereka makanan yang terlihat hanya membangkitkan selera, tetapi kami ingin membiasakan anak-anak makan makanan sederhana dan sehat yang tidak harus mahal, tetapi bergizi, higienis, dan tidak mengandung bahan pengawet.

Sekarang, pola konsumsi makanan di Ledokombo tidak memenuhi target pemerintah. Idealnya, makanan yang dikonsumsi harus mengandung tiga unsur nutrisi: karbohidrat, protein, dan mineral. Namun, masalahnya adalah anak-anak lebih cenderung makan apa yang mereka kenal dan cenderung fokus pada satu elemen seperti makan nasi dengan mie. Namun demikian, ini merupakan tantangan bagi kita untuk membuat gerakan makanan sehat di daerah pedesaan di mana sebagian besar orang – kelas menengah ke bawah – memiliki tingkat pendidikan yang rendah (di bawah tingkat sekolah menengah). Mempromosikan pola makan sehat perlu contoh yang baik dan dipraktikkan oleh banyak pemangku kepentingan untuk meyakinkan lebih banyak orang, tetapi kami tidak punya.

Pendekatan kolaboratif tampaknya menjadi strategi utama. Apa inisiatif Bapak saat ini?

JW: Untuk mencapai visi Kabupaten Jember sebagai Kabupaten Layak Anak, kami berkolaborasi dengan bnayak sekolah, seperti melalui UKS — Unit Kesehatan Sekolah. Kami juga bekerja sama dengan IGTK — Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak.

Setiap hari, kami membuat menu makanan sehat, yang berbeda setiap minggunya. Misalnya, kami menyiapkan sayuran dengan ikan tuna setiap hari Senin. Kami melibatkan keluarga dan orang tua siswa dalam membuat menu ini, memastikan keragaman masakan dan resep. Orang tua memberikan informasi tentang tren terbaru untuk makanan favorit anak-anak. Kami berusaha mendidik anak-anak untuk mengurangi makan makanan instan secara bertahap dan lebih sering makan makanan yang lebih sehat. Kami senang bahwa ada beberapa perubahan yang terlihat. Misalnya, anak-anak di beberapa taman kanak-kanak sudah mulai makan sayuran, meskipun mereka dulu tidak suka makan sayur.

Sebagai seorang Camat, saya tidak bekerja sendirian. Ada banyak pihak yang mendukung saya, seperti Tanoker, Komunitas Perintis, organisasi desa, dan cabang dari Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga. Kami juga membentuk tim yang disebut Gebrak Desa, gerakan gabungan sukarelawan, TNI dan Polri, Badan Kesehatan Masyarakat, kabupaten, dan desa. Harapannya kami akan menggunakan platform ini juga untuk mempromosikan makanan sehat, karena juga sejalan dengan Kementerian Kesehatan dan Gerakan Masyarakat Sehat – GERMAS. Selain para pemangku kepentingan di Kecamatan Ledokombo, kami juga didukung oleh lembaga-lembaga seperti Hivos, melalui kolaborasi dengan Tanoker.

Apakah Bapak juga memperkenalkan upaya-upaya tersebut ke daerah lain?

JW: Kami akan menggunakan acara mingguan Car Free Day untuk memperkenalkan makanan sehat kepada orang-orang di kecamatan atau desa lain di Jember. Kami juga memiliki acara Pasar Lumpur yang diadakan setiap bulan, yang telah menjadi ikon Ledokombo. Kami akan mencoba membuat Pasar Lumpur menjadi lebih menarik dan lebih mudah diakses oleh orang-orang di dalam maupun di luar Ledokombo.

Jono Wasinudin (Photo by BrandOutLoud)

Bagaimana Bapak memberi contoh terkait pangan sehat kepada masyarakat?

JW: Alhamdulillah, saya sudah melakukannya di rumah. Makanan favorit saya adalah pecel, makanan khas Jawa, terutama di Ngawi dan Madiun. Pecel itu sehat dan murah, mengandung sayuran dan protein dari tempe atau tahu. Memberi contoh merupakan tantangan bagi saya dalam hal disiplin dalam apa yang saya makan. Saya tidak ingin makanan kita itu tergantikan oleh makanan cepat saji.

Dalam arti yang lebih luas, saya percaya bahwa membangun masyarakat, memang, dimulai dari membangun manusianya. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan gaya hidup sehat sedini mungkin, dengan melakukan olahraga, bermain, dan tentu saja makan makanan yang sehat.

 

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kisah Haji Jono Wasinudin dan kehidupan orang lain yang memperjuangkan pangan sehat di Indonesia, saksikan ‘Bangun Generasi Sehat’, kerjasama antara Hivos dan IIED, diproduksi oleh BrandOutLoud, untuk program Sustainable Diets for All.