Tumpeng Memuliakan Desa: Mempromosikan Pangan Sehat Berkelanjutan Melalui Simbol Kebudayaan

“Tumpeng nasi singkong pelangi” yang dibuat oleh PKK Desa Slateng. © Sena Aji/Hivos

Mengonsumsi makanan sehat masih menjadi suatu tantangan bagi masyarakat Indonesia yang berpenghasilan rendah, khususnya mereka yang tinggal di daerah. Makanan siap saji dan makanan olahan (ultra-processed) sangat digemari karena mudah didapatkan dan tersedia secara luas. Sementara itu, makanan lokal yang lebih sehat nyatanya semakin dilupakan. Untuk meningkatkan kesadaran akan nutrisi yang lebih baik, Hivos dan Tanoker berkolaborasi dalam mempromosikan pangan sehat dengan berbagai inisiatif di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur karena keduanya percaya bahwa masyarakat sangat berperan dalam membangun sebuah sistem pangan berkelanjutan. Oleh karena itu, Hivos melalui program Sustainable Diets for All (SD4All) mendukung festival kuliver yang diadakan dalam suatu rangkaian acara dari Festival Egrang ke-10.

Onde-Onde sehat, makanan tradisional yang dibuat dari ubi dengan tambahan wijen di bagian luarnya. © Sena Aji/Hivos

 

Buah dan sayuran lokal segar yang dipanen dari desa setempat. © Sena Aji/Hivos

Penilaian makanan yang dilakukan oleh seorang koki dilihat dari segi rasa, kreativitas, proses, dan nutrisi. © Sena Aji/Hivos

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Indonesia, khususnya di Ledokombo, tumpeng masih dianggap sebagai budaya yang merepresentasikan keharmonisan dan kemakmuran masyarakat. Dengan makna yang dalam, tumpeng yang menjadi suatu persembahan dan wujud dari rasa syukur kepada Tuhan dapat menjadi suatu instrumen dalam melestarikan kebudayaan yang dapat dipadukan untuk membangun komunitas yang inovatif. Tumpeng diambil dari Bahasa Jawa yang artinya tumpak dan lempeng, yang berarti bahwa kita sebagai manusia harus menjalani hidup dengan baik.

Suasana pagi di bazar sehat. © Sena Aji/Hivos

Festival kuliner dengan tema “Tumpeng Memuliakan Desa” bertujuan untuk membawa perubahan pada konsumsi pangan sehat dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Festival ini melibatkan kelompok-kelompok kuliner dari berbagai elemen masyarakat. Para peserta dengan sebaik mungkin menyiapkan berbagai bentuk tumpeng sehat yang tidak menggunakan nasi putih, tetapi menggunakan bahan-bahan alternatif sehat lainnya yang diambil langsung dari daerah setempat, seperti jagung, nasi merah, umbi-umbian, dan kacang hijau.

“Tumpeng Semangat Desa” yang disiapkan oleh Weduaen. © Sena Aji/Hivos
Peserta dari PKK Desa Sukogidri sedang menyiapkan makanannya. © Sena Aji/Hivos
Juri dari Indonesian Chef Association (ICA) mencicipi makanan dari salah satu peserta. © Sena Aji/Hivos

“Setiap tahun, bersamaan dengan festival egrang, kami mengadakan festival kuliner untuk menyajikan kreasi pangan sehat dari berbagai elemen masyarakat di daerah Ledokombo dan wilayah Jember lainnya. Kami berharap festival ini dapat membawa suatu nilai tambah bagi upaya dalam mempromosikan makanan sehat, lokal, dan berkelanjutan,” kata Sutopo. Dia menjelaskan lagi bahwa menu pangan sehat adalah salah satu fokus utama Tanoker dalam membangun Ledokombo sebagai desa ekowisata.

”Tumpeng Sewujo” yang dibuat oleh Sekolah Eyang. © Sena Aji/Hivos

 

 

 

 

 

 

 

 

Makanan pendamping disajikan sebagai menu tambahan dalam lomba tumpeng. © Sena Aji/Hivos

Festival tumpeng itu sendiri tidak hanya dinilai dari sisi estetik, namun juga dari bahan-bahan pilihan yang mendukung dalam pembuatan tumpeng, yaitu dari bahan alami, tanpa bahan kimia, dan tanpa penambah rasa.

 

 

 

 

 

 

Eyang-eyang sedang menyiapkan tumpengnya. © Sena Aji/Hivos

 

Bupati Jember, Hj. Faida, MMR, di festival kuliner sebelum secara resmi membuka acara. © Sena Aji/Hivos

 

Sesi foto dari kelompok kuliner eyang-eyang. © Sena Aji/Hivos
Berpose di depan Garasi Inspirasi – tempat dimana eyang-eyang melakukan aktivitas mereka. © Sena Aji/Hivos

Sebanyak sembilan belas kelompok berpartisipasi dalam lomba tumpeng. Ada peserta yang unik dengan usia rata-rata 55-80 tahun, namanya “Sekolah Eyang”. Terlepas dari usia mereka, keunikan menu yang disajikan juga tidak kalah menarik. Sekolah Eyang menyajikan menu tumpeng sehat dengan nama yang juga unik sehingga menarik perhatian pengunjung. Misalnya, Nasi Pistol (Pisang Tolo), yaitu tumpeng yang dimodifikasi dengan bahan dasar pisang dan kacang tolo yang diambil dari pekarangan mereka. Ada menu lainnya juga yang mereka sebut Sekipu (Oseng Kulit Puhung), kreasi yang sangat sedap dari kulit singkong yang sudah digoreng. Tidak mengejutkan, kelompok ini mendapatkan juara dua di festival lomba tumpeng.

Kelincahan para kontestan di Festival Egrang ke-10. © Dyama Khazim/Hivos

Flashmob Tari Pendalungan yang mempromosikan keragaman kota Jember. © Sena Aji/Hivos

Festival egrang adalah perayaan kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat. Diprakarsai oleh Tanoker, festival egrang yang menjadi acara tahunan Pemerintah Jember dan para pemangku kepentingan lainnya bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional pada tanggal 21 September.

Suasana Ledokombo di pagi hari. © Sena Aji/Hivos